Program autocad digunakan untuk membuat desain, sedangkan untuk replika bentuk, tripleks digunakan sebagai bahan baku. "Ini adalah salah satu tugas mata kuliah proses produksi," ungkap Tigor Tambunan, dosen jurusan teknik industri kampus yang berlokasi di Ngagel Jaya Tengah tersebut. Sejauh ini, barang yang dibuat adalah replika kendaraan. Ada kapal, sepeda motor, mobil, pesawat, dan becak.
Urutan kerja tugas tersebut adalah membuat sketsa manual lewat corat-coret pensil atau pulpen. Kemudian, mahasiswa menyusun desain tiga dimensi dengan program autocad. Setelah itu, mereka membuat bagian-bagian desain tersebut. "Tiap replika memiliki bagian kecil-kecil," tambah Tigor.
Nah, membuat bagian kecil-kecil itulah yang dianggap tahap paling sulit dalam menyelesaikan tugas tersebut. Sebab, sebuah desain bentuk memiliki bagian-bagian atau kerangka yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan. Ukuran dan seginya beraneka ragam.
"Paling pusing ya memikirkan bagian-bagian kecil tersebut supaya sesuai dengan bentuk suatu barang, pesawat misalnya," ungkap Felix Hengky Budiono, salah seorang mahasiswa jurusan teknik industri.
Bila bagian-bagian sudah diciptakan, barulah dibuat pola dua dimensi dari tiap bagian itu. Pola tersebut kemudian dicetak di selembar kertas dengan skala satu banding satu. Dari kertas itu, dijiplak ke selembar tripleks. Otomatis, di tripleks tersebut nanti ada bagian-bagian atau kerangka bentuk desain awal tiga dimensi.
Bagian-bagian yang bersatu di tripleks tersebut kemudian dipisahkan satu-satu dengan menggunakan gergaji tangan atau gergaji mesin otomatis. Dalam segi nilai mata kuliah, mahasiswa yang menggunakan gergaji tangan akan memeroleh nilai yang lebih tinggi daripada yang menggunakan gergaji mesin otomatis.
Bagian-bagian tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah replika. Tentu saja, desain awal berbentuk sama dengan replika yang ingin dibuat.
"Replika macam ini di luar negeri sana dijualbelikan," urai Tigor seraya menunjukkan sejumlah replika milik para mahasiswanya.
Karena itu, menurut rencana, tahun depan jurusan teknik industri akan membuat banyak replika untuk diperjualbelikan. Kebetulan, kampus STTS juga memiliki program kewirausahaan.
Felix mengungkapkan, secara biaya, harga untuk sebuah replika tergolong murah. Hanya bermodal tripleks dan tinta print. Mungkin biayanya hanya Rp 15 ribu-Rp 20 ribu. Namun, ide suatu desain itu mahal.
"Soalnya, kami membuat sendiri kerangka tiap bentuk. Ngepaskan dengan desain secara keseluruhan itu yang sulit," tutur alumnus SMA Santa Agnes tersebut.
Keterampilan menggunakan gergaji tangan saat memotong-motong kerangka-kerangka kecil desain tersebut juga cukup sulit. Bila menggunakan gergaji mesin otomatis, biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal. Harganya mencapai Rp 100 ribu. (rio/c6/ttg)
|